Senin, 29 Desember 2014

Mengenal Aceh secara dari sisi tradisional

A.                      Pakaian Adat
*                       Laki-Laki
Pakaian adat Aceh bagi laki-laki adalah sejenis jas berlengan panjang. Bagian leher menggunakan kerah tertutup. Bagian bawah menggunakan celana panjang (cekak musang) dilengkapi dengan sarung (pendua) yang dililitkan mulai dari perut hingga diatas lutut. Sebagai pelengkap, senjata khas Aceh, rencong, diselipkan diperut. Sementara itu, penutup kepala menggunakan kopiah.
*                       Perempuan
Pakaian yang digunakan tidak jauh berbeda dengan yang digunakan laki-laki, yaitu jas berlengan panjang dengan kerah tertutup dan panjangnya mencapai pinggul. Sebagai bawahan digunakan celana panjang  dengan kain sarung yang dililitkan mulai dari perut hingga lutut. Sebagai pelengkap, digunakan ikat pinggang (pending). Aksesoris ciri khasnya ialah kalung dan mahkota.
B.                      Rumah Adat
Rumah adat Aceh terkenal dengan sebutan rumoh Aceh atau krongbade. Rumah adat ini berbentuk rumah panggung. krongbade memiliki 4 bagian, yaitu 3 bagian utama dan 1 bagian tambahan. 3 bagian utama tersebut adalah serambi depan (seuramoe keue), serambi tengah (seuramoe teungoh) dan serambi belakang (seuramoe likot). Sementara itu, 1 bagian tambahan ialah rumoh dapu (rumah dapur) yang berfungsi sebagai dapur. Ciri khas lainnya dari rumah ini adalah jumlah tiangnya yang genap, menggunakan dinding dari kayu atau papan, serta menggunakan atap dari rumbia.
C.                      Tari Tradisional
*                       Tari Rateb Meuseukat
Nama tari ini berasal dari bahasa Arab, yaitu rateb atau ratb, serta meuseukat yang berasal dari kata sakat yang bermakna diam. Gerak dan gaya dari tari ini diciptakan oleh anak Teungku Abdurrahim atau Habib Seunangan (Nagan Raya).
Sementara itu, syair-syairnya diciptakan oleh Teungku Cik di Kala, yaitu seorang ulama yang berasal dari Seunangan yang hidup sekitar abad XIX. Syair-syair tersebut berisi sanjungan dan pujian kepada Allah Swt dan Nabi Muhammad Saw. Tari yang dimainkan oleh sejumlah perempuan yang menggunakan pakaian adat Aceh ini dilakukan dalam posisi duduk dan berdiri. Selain itu, tari ini juga diiringi dengan alat musik, yaitu rapa’I dan geundrang.
*                       Tari Saman
Tari saman adalah tari yang berasal dari Tanah Gayo. Tari yang semula merupakan sebuah permainan rakyat yang dikenal dengan nama pok ane ini diciptakan oleh seorang ulama yang bernama Syekh Saman.
Dalam perjalanannya, Syekh Saman mulai menyisipkan pujian-pujian kepada Allah Swt dalam syair-syairnya yang digunakan dalam tari Saman. Dengan demikian, tari ini juga bisa digunakan sebagai media dakwah.
Tari saman dimainkan oleh beberapa laki-laki yang menggunakan pakaian adat masyarakat Gayo. Biasanya jumlah penarinya lebih dari 10 orang, tetapi harus ganjil jumlahnya.
Pada umumnya, tari saman ditampilkan tidak menggunakan iringan alat musik, namun menggunakan suara dari para petani dan tepuk tangan mereka, yang biasanya dikombinasikan dengan memukul dada dan pangkal paha mereka sebagai sinkronasi dan menghempaskan badan ke berbagai arah.
*                       Tari Seudati
Nama tari ini berasal dari bahasa Arab, yaitu syahdati atau syahadatain yang bermakna kesaksian atau pengakuan. Pendapat lain menyatakan bahwa nama tari ini berasal dari kata seurasi yang berarti serasi, selaras dan kompak.
Tari yang berasal dari Kabupaten Pidie ini dimainkan oleh 8 orang laki-laki yang menggunakan kostum berupa celana panjang dan kaos oblong berlengan panjang yang keat, yang keduanya berwarna putih; kain songket yang dililitkan sebatas paha dan pinggang; ronceng yang disisipkan dipinggang; tangkulok (ikat kepala) berwarna merah, serta sapu tangan yang berwarna.
Tari seudati tidak dimainkan dengan irigan alat musik, tetapi para penari hanya melakukan beberapa gerakan, seperti menepukkan tangan ke dada dan pinggul, menghentakkan kaki ke tanah, serta menjentikkan jari. Tari ini juga diirngi dengan syair-syair yang sebagian berbahasa Arab dan bahasa setempat
*                       Tari Tarek Pukat
Tari ini berasal dari Kabupaten Aceh Besar. Nama tari ini berasal dari kata tarek yang berarti tarik dan pukat yang bermakna sejenis jaring yang digunakan untuk menangkap ikan.
Tari yang menggambarkan aktivitas nelayan yang sedang menangkap ikan di laut ini dimainkan oleh beberapa perempuan yang memegang tali yang salng sambung. Tali saling sambung, kemudian berbentuk sebuah jaring, yang menggambarkan kebersamaan dan sikap tolong-menolong yang dimiliki masyarakat.
D.                     Alat Musik Tradisional
*                       Serune Kalee (Serunai)
Serune Kalee merupakan alat musik tiup tradisional Aceh. Alat musik ini sejenis klarinet. Bahkan untuk membuat alat musik tersebut ialah kayu dengan bagian pangkal yang kecil dan ujungnya seperti corong. Di bagian pangkal terdapat perise, yaitu sebuah piringan kuningan yang berfungsi sebagai penahan bibir ketika meniupnya. Sebagai pengatur nada, serune memiliki 7 buah lubang. Selain itu, agar badan seruna tidak pecah, dilapisi kuningan dan 10 ikatan dari tembaga (klah)
*                       Geundrang (Gendang)
Alat musik ini terbuat dari kayu nangka, kulit kambing dan rotan. Alat musik in dibuat dengan melubangi kayu nagka yang berbentuk silinder, sehingga badan gendang menyerupai bambam. Pada masing-masing lingkarannya, kiri dan kanan dipasangi kulit kambing. Adapun ring untuk mengikat kulit kambing tersebut menggunakan rotan yang sudah dibuat sesuai dengan ukuran lingkaran gendang. Kulit yang menutupi permukaan dari kedua sisi gendang dihubungkan dengan tali yang terbuat dari kulit. Alat pemukulnya terbuat dari kayu yang dibengkakkan ujungnya
*                       Rapa’i
Terbuat dari batang kayu nagka yang dilubangi tengahnya (baloh). Ukuran baloh lebih besar pada bagian atas daripada bagian bawahnya. Bagian atas ditutupi dengan kulit kambing dan bagian bawah dibiarkan terbuka. Untuk mengatur ketegangan kulit, digunakan rotan yang dibalut dengan kulit.
E.                      Senjata Tradisional
*                       Rencong
Merupakan simbol keberanian, keperkasaan, pertahanan diri dan kepahlawanan.
*                       Siwah
Merupakan bagian dari perlengkapan raja atau ulebalang. Istimewanya, gagang siwah diberi hiasan emas dan permata
*                       Peudeung
Berupa pedang dengan panjang 100 cm, digunakan untuk menetak atau mencincang.
F.                      Bahasa
*                       Bahasa Gayo
*                       Bahasa Simeulue
*                       Bahasa Kluet
G.                     Suku
*                       Suku Aceh
*                       Suku Gayo
*                       Suku Alas
*                       Suku Aneuk Jamee
*                       Suku Kuet
*                       Suku Devayan
*                       Suku Julu
*                       Suku Melayu Timiang
H.                     Lagu Daerah
*                       Bungong Jeumpa
*                       Anju Ahu
*                       Sepakat Segenap
*                       Lembah Alas