A.
Pakaian
Adat
Pakaian
adat Aceh bagi laki-laki adalah sejenis jas berlengan panjang. Bagian leher
menggunakan kerah tertutup. Bagian bawah menggunakan celana panjang (cekak
musang) dilengkapi dengan sarung (pendua) yang dililitkan mulai dari perut
hingga diatas lutut. Sebagai pelengkap, senjata khas Aceh, rencong, diselipkan
diperut. Sementara itu, penutup kepala menggunakan kopiah.
Pakaian
yang digunakan tidak jauh berbeda dengan yang digunakan laki-laki, yaitu jas
berlengan panjang dengan kerah tertutup dan panjangnya mencapai pinggul.
Sebagai bawahan digunakan celana panjang
dengan kain sarung yang dililitkan mulai dari perut hingga lutut.
Sebagai pelengkap, digunakan ikat pinggang (pending). Aksesoris ciri khasnya
ialah kalung dan mahkota.
B.
Rumah
Adat
Rumah adat Aceh terkenal dengan sebutan rumoh Aceh atau
krongbade. Rumah adat ini berbentuk rumah panggung. krongbade memiliki 4
bagian, yaitu 3 bagian utama dan 1 bagian tambahan. 3 bagian utama tersebut
adalah serambi depan (seuramoe keue), serambi tengah (seuramoe teungoh) dan
serambi belakang (seuramoe likot). Sementara itu, 1 bagian tambahan ialah rumoh
dapu (rumah dapur) yang berfungsi sebagai dapur. Ciri khas lainnya dari rumah
ini adalah jumlah tiangnya yang genap, menggunakan dinding dari kayu atau
papan, serta menggunakan atap dari rumbia.
C.
Tari
Tradisional
Nama
tari ini berasal dari bahasa Arab, yaitu rateb atau ratb, serta meuseukat yang
berasal dari kata sakat yang bermakna diam. Gerak dan gaya dari tari ini
diciptakan oleh anak Teungku Abdurrahim atau Habib Seunangan (Nagan Raya).
Sementara
itu, syair-syairnya diciptakan oleh Teungku Cik di Kala, yaitu seorang ulama
yang berasal dari Seunangan yang hidup sekitar abad XIX. Syair-syair tersebut
berisi sanjungan dan pujian kepada Allah Swt dan Nabi Muhammad Saw. Tari yang
dimainkan oleh sejumlah perempuan yang menggunakan pakaian adat Aceh ini dilakukan
dalam posisi duduk dan berdiri. Selain itu, tari ini juga diiringi dengan alat
musik, yaitu rapa’I dan geundrang.
Tari
saman adalah tari yang berasal dari Tanah Gayo. Tari yang semula merupakan
sebuah permainan rakyat yang dikenal dengan nama pok ane ini diciptakan oleh seorang
ulama yang bernama Syekh Saman.
Dalam
perjalanannya, Syekh Saman mulai menyisipkan pujian-pujian kepada Allah Swt
dalam syair-syairnya yang digunakan dalam tari Saman. Dengan demikian, tari ini
juga bisa digunakan sebagai media dakwah.
Tari
saman dimainkan oleh beberapa laki-laki yang menggunakan pakaian adat
masyarakat Gayo. Biasanya jumlah penarinya lebih dari 10 orang, tetapi harus
ganjil jumlahnya.
Pada
umumnya, tari saman ditampilkan tidak menggunakan iringan alat musik, namun
menggunakan suara dari para petani dan tepuk tangan mereka, yang biasanya
dikombinasikan dengan memukul dada dan pangkal paha mereka sebagai sinkronasi
dan menghempaskan badan ke berbagai arah.
Nama
tari ini berasal dari bahasa Arab, yaitu syahdati atau syahadatain yang
bermakna kesaksian atau pengakuan. Pendapat lain menyatakan bahwa nama tari ini
berasal dari kata seurasi yang berarti serasi, selaras dan kompak.
Tari
yang berasal dari Kabupaten Pidie ini dimainkan oleh 8 orang laki-laki yang
menggunakan kostum berupa celana panjang dan kaos oblong berlengan panjang yang
keat, yang keduanya berwarna putih; kain songket yang dililitkan sebatas paha
dan pinggang; ronceng yang disisipkan dipinggang; tangkulok (ikat kepala) berwarna
merah, serta sapu tangan yang berwarna.
Tari
seudati tidak dimainkan dengan irigan alat musik, tetapi para penari hanya
melakukan beberapa gerakan, seperti menepukkan tangan ke dada dan pinggul,
menghentakkan kaki ke tanah, serta menjentikkan jari. Tari ini juga diirngi
dengan syair-syair yang sebagian berbahasa Arab dan bahasa setempat
Tari
ini berasal dari Kabupaten Aceh Besar. Nama tari ini berasal dari kata tarek
yang berarti tarik dan pukat yang bermakna sejenis jaring yang digunakan untuk
menangkap ikan.
Tari
yang menggambarkan aktivitas nelayan yang sedang menangkap ikan di laut ini
dimainkan oleh beberapa perempuan yang memegang tali yang salng sambung. Tali
saling sambung, kemudian berbentuk sebuah jaring, yang menggambarkan kebersamaan
dan sikap tolong-menolong yang dimiliki masyarakat.
D.
Alat
Musik Tradisional
Serune
Kalee merupakan alat musik tiup tradisional Aceh. Alat musik ini sejenis
klarinet. Bahkan untuk membuat alat musik tersebut ialah kayu dengan bagian
pangkal yang kecil dan ujungnya seperti corong. Di bagian pangkal terdapat perise,
yaitu sebuah piringan kuningan yang berfungsi sebagai penahan bibir ketika
meniupnya. Sebagai pengatur nada, serune memiliki 7 buah lubang. Selain itu,
agar badan seruna tidak pecah, dilapisi kuningan dan 10 ikatan dari tembaga
(klah)
Alat
musik ini terbuat dari kayu nangka, kulit kambing dan rotan. Alat musik in
dibuat dengan melubangi kayu nagka yang berbentuk silinder, sehingga badan
gendang menyerupai bambam. Pada masing-masing lingkarannya, kiri dan kanan
dipasangi kulit kambing. Adapun ring untuk mengikat kulit kambing tersebut
menggunakan rotan yang sudah dibuat sesuai dengan ukuran lingkaran gendang.
Kulit yang menutupi permukaan dari kedua sisi gendang dihubungkan dengan tali
yang terbuat dari kulit. Alat pemukulnya terbuat dari kayu yang dibengkakkan
ujungnya
Terbuat
dari batang kayu nagka yang dilubangi tengahnya (baloh). Ukuran baloh lebih
besar pada bagian atas daripada bagian bawahnya. Bagian atas ditutupi dengan
kulit kambing dan bagian bawah dibiarkan terbuka. Untuk mengatur ketegangan
kulit, digunakan rotan yang dibalut dengan kulit.
E.
Senjata
Tradisional
Merupakan
simbol keberanian, keperkasaan, pertahanan diri dan kepahlawanan.
Merupakan
bagian dari perlengkapan raja atau ulebalang. Istimewanya, gagang siwah diberi
hiasan emas dan permata
Berupa
pedang dengan panjang 100 cm, digunakan untuk menetak atau mencincang.
F.
Bahasa
G.
Suku
H.
Lagu
Daerah